Jakarta - Beef tallow kembali ramai dibicarakan dan digunakan sebagai alternatif minyak goreng. Lemak sapi yang dulu sempat tergeser oleh minyak nabati ini kini naik daun lagi, terutama di kalangan diet seperti keto dan carnivore yang menekankan konsumsi lemak hewani. Di media sosial, beef tallow juga kerap dipromosikan sebagai pilihan yang lebih "alami", bahkan muncul narasi yang menyebutnya lebih baik dibanding seed oils atau minyak nabati.
Menariknya, tren ini bukan hal baru. Sebelum minyak nabati populer seperti sekarang, beef tallow justru pernah menjadi salah satu bahan utama untuk memasak, termasuk menggoreng. Kini, di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap minyak olahan, bahan ini seolah "kembali" dengan citra yang lebih sehat.Namun, di balik tren tersebut, muncul pertanyaan penting: benarkah beef tallow memang lebih baik untuk kesehatan? Atau justru klaim ini hanya sebagian cerita yang belum sepenuhnya dipahami?
Apa Itu Beef Tallow dan Bagaimana Karakteristiknya?
Beef tallow adalah lemak sapi yang diperoleh melalui proses rendering, yaitu pemanasan jaringan lemak untuk memisahkan lemak murni dari air dan sisa jaringan. Dalam ilmu pangan, lemak seperti tallow diketahui tersusun terutama dari trigliserida, yakni bentuk utama lemak dalam bahan makanan, sebagaimana dijelaskan oleh Food and Agriculture Organization.
Secara fisik, beef tallow umumnya berwarna putih hingga kekuningan dan berbentuk padat pada suhu ruang. Sifat ini berkaitan dengan komposisi asam lemaknya. Sejumlah penelitian di jurnal Meat Science dan Journal of Food Science menunjukkan bahwa beef tallow didominasi oleh lemak jenuh sekitar 50-60%, serta lemak tak jenuh tunggal sebagai komponen utama lainnya. Kandungan lemak jenuh yang relatif tinggi ini membuat titik lelehnya lebih tinggi dibanding banyak minyak nabati, sehingga berbentuk padat pada suhu ruang.
Selain itu, komposisi tersebut juga berpengaruh pada stabilitasnya saat dipanaskan. Dalam kajian yang dipublikasikan di Journal of Food Science dan Frontiers in Nutrition, lemak dengan kandungan lemak tak jenuh ganda yang rendah seperti beef tallow, cenderung lebih tahan terhadap oksidasi, sehingga relatif stabil digunakan untuk memasak pada suhu tinggi. Secara teknis, data dari American Oil Chemists' Society juga menunjukkan bahwa titik asap beef tallow berada di kisaran sekitar 200-250°C.
Dari sisi rasa, beef tallow memiliki aroma dan cita rasa khas yang lebih gurih dibandingkan minyak nabati, sehingga sering digunakan untuk memberikan rasa yang lebih "rich" pada masakan. Kombinasi antara stabilitas panas dan karakter rasa inilah yang membuat beef tallow kembali dilirik, meskipun komposisi lemaknya tetap perlu diperhatikan dalam konteks kesehatan. (dtkh)

0 Komentar