Breaking News

BPOM Panggil Industri Farmasi Pekan Ini, Bahas Stok Obat-Vaksin Efek Perang

 Jakarta - Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM RI) Taruna Ikrar mengklaim stok obat dan vaksin masih relatif aman dalam enam bulan ke depan di tengah konflik Iran, AS, dan Israel.

Meski begitu, ia tidak menampik pengaruh geopolitik ke ketersediaan obat dan vaksin, termasuk memicu harga melambung tinggi. Terlebih, 90 persen bahan baku obat di Indonesia masih impor.

"Berhubungan dengan stok obat dan vaksin harus diketahui bahwa produk-produk kita 90 persen raw materialnya itu impor, tentu berpengaruh termasuk terhasap harga," tuturnya dalam konferensi pers, Rabu (8/4/2026).

"Nah dalam konteks itu kami akan kumpulkan industri farmasi dalam waktu dekat untuk bagaimana mencari solusinya," sambung dia. Taruna berharap kondisi geopolitik perang bisa segera mereda. Ia juga menyoroti Iran dan AS yang belakangan membuat kesepakatan baru.

"Semoga ini segera mengakhiri persoalan ketersediaan,termasuk ketersediaan untuk energi," tutur dia. Terkait tantangan dan antisipasi harga serta ketersediaan obat, utamanya obat esensial, BPOM RI juga rencananya akan segera memanggil pihak industri.

"Makanya dalam waktu dekat Pak Deputi ya kita akan kumpulkan industri farmasi dan gabungan perusahaan besar farmasi untuk berkumpul cepatnya untuk kita carikan, kita cari solusi bersama-sama."

"Untuk selama ini yang kita sudah dapat jumlahnya,ketersediaannya masih 6 bulan ke depan masih aman.Tapi kan kita ingin kalau bisa lebih dari itu.

Berbeda denganmakanan yang masih memungkinkan dikonversi ke produk lain, vaksin dan obat terlebih yang sangat berbahaya bila ikut terdampak.

"Jadi kita akan kumpulkan industri farmasi secepat mungkin minggu depan," pungkasnya. (DTKH)

0 Komentar

Type and hit Enter to search

Close